KONSEP HUBBUL WATHAN DALAM AL-QUR’AN
DOI:
https://doi.org/10.35132/assyifa.v2i1.540Keywords:
Hubbul Wathan, Al-Qur’an, Cinta tanah airAbstract
Melihat pada realita saat ini, penulis berinisiatif untuk mengkaji hubbul wathan dalam al-Qur’an serta kurangnya rasa prihatin terhadap tanah air. Hal inilah yang menjadi latar belakang kurangnya rasa cinta terhadap tanah air, serta mengurangnya pendidikan untuk membangun rasa cinta terhadap tanah air. Metode penelitian ini menggunakan metode library research (penelitian kepustakaan) karena penelitian ini menggunakan metode kepustakaan maka data yang digunakan meliputi dua sumber data yakni, menggunakan data primer dan data skunder dengan cara mengadakan pengamatan atau memahaman terhadap kitab-kita, buku-buku atau karya-karya ilmiah lainnya yang ada kaitannya dengan judul skripsi penulis tulis. Hubbul wathan atau Cinta tanah air merupakan suatu sikap positif untuk memberikan kontribusi positif dalam membangun bangsa dan Negara. Yang dimaksud cinta tanah air adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, budaya, ekonomi dan politik bangsa. Demikian rasa cinta tanah air merupakan rasa kebanggan, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati dan loyalitas yang dimiliki oleh setiap individu pada Negara tempat ia tinggal dan cermin melalui perilaku membela tanah air, menjaga dan melindungi tanah airnya, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negaranya, mencintai adat dan budaya yang ada di negaranya dan telah tertanam kuat dalam dadanya. Adapun hasil dari penelitian ini membahas tentang permasalahan dari skripsi, yaitu pentingnya mencintai tanah air, serta menjaga keselamatan dan keamanan wilayah atau negerinya. Hubbul wathan (cinta tanah air) merupakan suatu sikap yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku atau perbuatan untuk kejayaan negerinya dan kebahagiaan bangsanya. Cinta tanah air berarti cinta pada negeri, yakni tempat dimana seseorang memperoleh penghidupan dan mengalami kehidupan dari sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya. Adapun konsep hubbul wathan dalam al-Qur’an yang dipaparkan penulis diantaranya adalah menjaga stabilitas keamanan Negara dan menjaga stabilitas ekonomi.
References
Departemen Agama, Al Hidayah Alquran Tafsir, (Jakarta: Kalim, 2011), hlm. 20.
Muhammad Sholeh Darat, Faid ar-Rahman Fi Tarjamah Tafsir Kalam al-Malik ad-Dayyan, (Singapura: Makhtabah Muhammad Amin, 1991), jld. 1, hlm. 252.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an (Tangerang: Lentera Hati, 2017), vol. 12, hlm. 615-616.
Https://Kalbarprov.go.id/berita/ekonomi syariah berikan kesejahteraan bagi masyarakat, diakses pada tanggal 15 September 2022.
Raghib Al-Asfihany, Mufradhat Al-Fadz Al-Qur’an (Damaskus: Dar Al-Qalam, 199), Vol. 1, hlm. 166.
Isma’il Haqqi bin Musthofa al-istanbuli al-hanafi al-hanwati, rub al-bayan, (Bairut: Dar al-fikr, 2001), Vol. 1, hlm. 227.
Budiyanto, B., & Hasan, M. (2022). KONTEKSTUALISASI DAN RELEVANSI UZLAH DI ERA GLOBALISASI DALAM PANDANGAN ULAMA’. As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History, 1(2), 22-44.
Misbah Musthofa, al-IklifI Ma‘aniat-Tanzil (Surabaya: al-Ihsân, 1994), Juz 13-15, hlm. 2414.
Muhammad Sholeh Darat, Faid ar-Rahman FiTarjamah Tafsir Kalam al-Malik ad-Dayyan (Singapura: Makhtabah Muhammad Amin, 1991), vol. 1, hlm. 252.
Depdikbut, Tokoh-Tokoh Pemikir Paham Kebangsaan Ir. H Soekarno dan KH. Ahmad Dahlan (Jakarta: CV Ilham Bangun Karya, 1999), hlm. 56.
Hamka, Pandangan Hidup Muslim (Jakarta: Bulan Bintang, 1961), hlm. 220.
. Fethullah Gulen, Cinta dan Toleransi (Tangerang: BukindoErakaryaPublishing, 2011), hlm. 1-2.



